Migrasi Sepenuhnya ke Open Source, Apakah Mudah?
Tanggal 21 Agustus 2007 (kemarin) saya menginap di kontrakan saya yang lama, karena habis menagih janji traktiran untuk makan malam. Setelah makan malam, saya mengobrol dengan teman saya yang bekerja di hmm.. saya kurang tahu penyebutan untuk jasa IT semacam ini.. yang jelas belakangan ini tugasnya adalah melakukan migrasi ke sistem operasi Linux dan juga mensupport aplikasi yang masih menyangkut di “jendela”. Perusahaan yang dimigrasikan ini cukup besar, mengingat banyak anak cabang yang tersebar di daerah. Dari obrolan dengannya, saya cukup kaget mendengar adanya anggaran untuk sebuah aplikasi desktop bisa mencapai 1 milyar (atau 2 milyar, saya lupa). Namun saya tak tahu apakah ini termasuk lifetime support. Kalaupun iya, tetap saja besar. Saya pun bertanya apakah memang aplikasi ini cukup rumit. Secara dia belum pernah mengoperasikannya, dia hanya bisa menggambarkan input dan output yang dihasilkan oleh aplikasi tersebut. Oia, saya belum sempat menanyakan apakah developer lokal yang mengerjakan aplikasi ini. Gambarannya adalah aplikasi ini butuh seorang data entry untuk menginput parameter dari sebuah objek, lalu aplikasi akan memberikan, lebih tepatnya mendiagnosa, bagian apa saja di struktur objek yang perlu di ganti. Saya membayangkannya seperti expert system (sistem pakar). Contoh paling sederhana dari sistem pakar adalah pendiagnosa penyakit, dimana gejala pasien adalah input dan sistem pakar akan mengolah inputan dengan inference rule yang dimilikinya dan memberikan output / hasil diagnosa kemungkinan penyakit yang diderita oleh pasien.
Kalaupun apa yang saya bayangkan kurang lebih sama terhadap aplikasi sebenarnya, maka mubazir sekali anggaran sebanyak itu, karena banyak aplikasi sistem pakar yang bisa diunduh secara gratis beserta sourcenya di sourceforge. Setelah itu hanya tinggal mengoprek sedikit sourcenya untuk mengikuti kebutuhan perusahaan. Jika memang sudah niat untuk mengurangi pengeluran biaya IT dengan memigrasikan semua sistem operasi ke FLOSS, akan tanggung sekali tanpa memigrasi aplikasi (baik administrasi, payroll, inventory or warehouse or whatever you name it) perusahaan ke FLOSS (ini termasuk bagian kerja lo ga?). Menurutnya, aplikasi vital perusahaan masih ada yang menyangkut di jendela, sehingga masih digunakan Windows Terminal Server. Dia juga sempat menceritakan biaya charge terhadap aplikasi yang running di terminal services (entah benar atau tidak) sangat mahal sekali. Kebetulan saya dulu sempat diperlihatkan aplikasi warehouse milik salah satu anak perusahaan ini. Dan saya mencobanya untuk mentransform aplikasi yang masih menggunakan Clipper ini menjadi berbasis web, mengingat akan portabilitas ke bermacam-macam platform. Karena hanya untuk sample, saya membuatnya buru-buru dengan framework cakephp. Kalaupun saya disuruh mengerjakan semua fiturnya hingga report printing dan dibayar hanya 10 juta, saya sangat gembira sekali (mengingat aplikasi warehouse
ini sangat sederhana) walaupun dia menjajikan sekitar 25 juta (CMIIW, to). Melihat keadaan seperti ini saya jadi timbul ide “jahat” untuk membuat aplikasi open source sejenis ini, dengan mencotek cara kerja aplikasi desktop tersebut lalu mempublishnya di sourceforge atau Google Code. Setelah itu menyuruh teman saya untuk memberitahukan ke perusahaannya “Eh itu ada aplikasi open source yang mirip ama punya kita yang 1 miliar”. Kalaupun ada teman-teman ingin mengasah kemampuan programming PHP nya, maka, saya rasa, ini adalah cara efektif selain dengan mengoprek core CMS. Tapi sepertinya, hal setengah-setengah ini menjadi bagian bisnis di bidang IT agar pendapatan tidak terputus (entah di sisi developer atau jasa migrator). Karena kalau semua perusahaan mengerti filosofi FLOSS ini, maka jasa perusahaan IT
seperti migrator atau developer akan bersaing hebat atau bahkan gulung tikar. CMIIW.
Panggung Musik Untuk Perayaan 17 Agutus Selesaikan skripsimu nak
Back to top
6 masliliks, 26 Nov 2007 at 2:14 pm
ehehehehe… migrasi .. oh migrasi…
maunya transmigrasi kali mass
5 gedex, 09 Sep 2007 at 11:30 pm
proyek orang kalee jay, bukan ane :p
4 jay, 09 Sep 2007 at 2:12 pm
west, hebat nih proyeknya dah milyaran euy! itu duit semua bos?
3 falcunix, 26 Aug 2007 at 9:16 am
memang untuk migrasi langsung kayaknya gak memungkinkan, yang sederhana seperti penggunaan M$ office ke open office masih banyak yang kaget untuk menggunakannya, gw pernah dulu bantuin migrasi ke linux, ada satu bagian yang masih nyangkut dijendela, untuk migrasi kelinux tetep dilakukan, tapi si perusahaan(BUMN) nyedian satu tempat dengan os windows agar bertahap migrasinya, biasanya klo supportnya gak sampe lifetime biasanya yang ud bisa ngajarin yang laen
2 gedex, 24 Aug 2007 at 9:31 am
o ternayata masalah klasik ya
1 onay, 24 Aug 2007 at 9:24 am
Pertamax!! ;))
Efisiensi atau pemborosan? IT di Indonesia blum bisa dijadikan sebagai pendapatan bagi negara, melainkan masih menjadi pengeluaran atau malah pemborosan negara.. Coba lihat negara seperti India yang export softwarenya sudah sangat besar. Income untuk negara. Disini, coba lah pemerintahnya melek IT dulu, jangan cuma melek “Jendela” doang. Cape deeeh!!….